Tampilkan postingan dengan label IFL Tionghoa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IFL Tionghoa. Tampilkan semua postingan

Kebahagian Ganda (喜喜)

0 komentar



Exfile4shared.blogspot.com, Sebuah karakter Tionghoa yang banyak dikenal, Kebahagiaan Ganda, yang tertera pada kertas merah atau potongan kertas selalu ada pada saat pernikahan.

Terdapat asal usul dibalik itu.

Pada masa Dinasti Tang, terdapat seorang pelajar yang ingin pergi ke Ibukota untuk mengikuti ujian negara, dimana yang menjadi juara satu dapat menempati posisi menteri.

Sayangnya, pemuda itu tersebut jatuh sakit di tengah jalan saat melintasi sebuah desa di pegunungan. Untung seorang tabib dan anak perempuannya membawa pemuda itu ke rumah mereka dan merawat sang pelajar. Pemuda tersebut dapat sembuh dengan cepat berkat perawatan dari tabib dan anak perempuannya.


Setelah sembuh, pelajar itu harus meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke Ibukota. Namun pelajar itu mengalami kesulitan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada anak perempuan sang tabib, begitu juga sebaliknya. Mereka saling mencintai.

Maka gadis itu menulis sepasang puisi yang hanya sebelah kanan agar pemuda itu melengkapinya, “Pepohonan hijau dibawah langit pada hujan musim semi ketika langit menutupi pepohonan dengan gerhana”

Setelah membaca puisi tersebut, sang pelajar berkata, “Baiklah, saya akan dapat mencapainya meskipun bukan hal yang mudah. Tetapi kamu harus menunggu sampai aku selesai ujian”. Sang gadis mengangguk-angguk.

Pada ujian negara, sang pelajar mendapatkan tempat pertama, yang mana sangat dihargai oleh kaisar. Pemuda itu juga bercakap-cakap dan diuji langsung oleh kaisar.

Keberuntungan ternyata pada pihak sang pemuda.

Kaisar menyuruh pemuda itu agar membuat sepasang puisi.

Sang kaisar menulis: “Bunga-bunga merah mewarnai taman saat angin memburu ketika taman dihiasai warna merah setelah sebuah ciuman”.

Pemuda itu langsung menyadari bahwa puisi yang ditulis oleh sang gadis sangat cocok dengan puisi kaisar, maka ia menulis puisi sang gadis sebagai pasangan puisi kaisar.

Kaisar sangat senang melihat bahwa puisi yang ada merupakan sepasang puisi yang harmonis dan serasi sehingga ia menobatkan pemuda itu sebagai menteri di pengadilan dan mengijinkan pemuda itu untuk mengunjungi kampung halamannya sebelum menduduki posisinya.

Pemuda itu menjumpai sang gadis dengan gembira dan memberitahu kepada sang gadis puisi dari kaisar.

Tidak lama kemudian mereka menikah.

Untuk pesta perayaan pernikahan, sepasang karakter Tionghoa, bahagia, dipasang bersamaan pada selembar kertas merah dan ditempel di dinding untuk menunjukkan kebahagiaan dari dua kejadian yang bersamaan, pernikahan dan pengangkatan sang pemuda.

Sejak saat itu, tulisan Kebahagiaan Ganda menjadi sebuah tradisi yang dilakukan pada setiap pesta pernikahan.

sumber http://www[.]tionghoa[.]com/kebahagiaan-ganda/
Read more...

Tradisi Cadar Merah Orang Tionghoa

0 komentar


Exfile4shared.blogspot.com, sumber tionghoa(.)com:
Pada pesta pernikahan tradisional Tionghoa, pengantin wanita terlihat memakai cadar berwarna merah untuk menutupi muka. Cadar itu biasanya terbuat dari sutra.

Cadar Merah pada Pengantin Wanita Tradisi ini berasal dari masa Dinasti Utara dan Selatan. Dimana pada masa itu para petani wanita mengenakan kain pelindung kepala untuk perlindungan dari terpaan angin atau panasnya matahari ketika sedang bekerja di ladang. Kain itu dapat berwarna apa saja, yang penting mampu menutupi bagian atas kepala. Kebiasaan ini lambat laun menjadi sebuah tradisi.


Pada awal Dinasti Tang, kain tersebut menjadi sebuah cadar panjang hingga ke bahu. Dan tidak lagi hanya dipakai oleh petani wanita.

Pada saat pemerintahan Kaisar Li Jilong dari Dinasti Tang, ia membuat keputusan bahwa semua pembantu wanita istana yang masih dalam masa penantian harus mengenakan cadar untuk menutupi muka. Tidak lama kebiasaan tersebut menjadi sebuah tradisi.

Lama kelamaan kebiasaan memakai cadar itu diterapkan pada pesta pernikahan. Pemakaian cadar pada pengantin wanita dengan tujuan agar kecantikan pengantin wanita tidak menjadi perhatian lelaki lain, dan pengantin pria ingin agar pengantin wanita terlihat anggun.

Pengantin wanita menerima pemakaian cadar itu untuk menunjukkan kesetiaan kepada pengantin pria.

Sejak masa Lima Dinasti (Later Jin), pemakaian cadar menjadi sebuah keharusan pada setiap pesta pernikahan. Warna cadar itu selalu merah yang mewakili kebahagiaan.
Read more...

Riwayat Zhuge Liang

0 komentar

Nama Lengkap: Zhuge Kongming
Lahir: A.D. 181
Meninggal: A.D. 234
Saudara: Zhuge Jin, Zhuge Jun
Anak: Zhuge Zhan
Keponakan: Zhuge Ke


Seorang ahli strategi. Dikenal juga sebagai Kongming dan mempunyai julukan “Naga Tidur”. Zhuge Liang hidup tenang dan damai di Longzhong sampai saat Liu Bei berhasil menemuinya pada kunjungan ketiga. Terkesan oleh kejujuran Liu Bei dan memiliki kesamaan pandangan untuk mendirikan kerajaan di barat dan pada saat yang sama menjalin kerjasama dengan Kerajaan Wu, Zhuge Liang meninggalkan desanya untuk mengabdi kepada Liu Bei, yang merupakan titik balik bagi Liu Bei. Pada saat itu Zhuge Liang berusia 27 tahun, sedangkan Liu Bei 47 tahun.


Pada mulanya Guan Yu dan Zhang Fei tidak menerima keadaan bahwa mereka diperintah oleh seorang yang masih muda dan berpikir bagaimana mungkin Liu Bei percaya penuh kepada Zhuge Liang yang masih muda dan tidak berpengalaman sehingga memberikan komando tertinggi untuk melawan Xiahou Dun. Namun Zhuge Liang dapat menunjukkan strategi yang hebat dan mengetahui arah gerak musuh yang menghasilkan kemenangan mutlak atas Cao Cao pada tugas pertamanya dan membuktikan bahwa penilaian Guan Yu dan Zhang Fei salah.

Hanya saja serangan kedua dari Cao Cao terlalu tangguh untuk membuktikan kepandaian Zhuge Liang sehingga Liu Bei membawa penduduk Xinye mengungsi ke Xiangyang, namun dikejar oleh Liu Cong. Tidak memiliki pilihan, Zhuge Liang memimpin sejumlah kecil pasukan ke Jiangxia untuk meminta bantuan dari Liu Qi. Demi menjamin keselamatan Liu Bei atas serangan Cao Cao, Zhuge Liang menuju Kerajaan Wu membujuk Sun Quan untuk mengajak kerjasama dan melawan Cao Cao bersama-sama. Tentara Liu Bei dan Sun Quan dapat menghalau tentara Cao Cao, dan Liu Bei berhasil menguasai Jingzhou selama perang berlangsung.

Memiliki ide yang sama dengan Pang Tong bahwa Jingzhou tidak dapat dipertahankan untuk waktu lama, Zhuge Liang memilih tetap berada di Jingzhou sementara Liu Bei bersama Huang Zhong, Wei Yan, Pang Tong dan Guan Ping menuju ke Xichuan. Sayangnya kematian Pang Tong dan Liu Bei yang terjebak di Xichuan tidak memberikan pilihan bagi Zhuge Liang kecuali memimpin tentara ke Xichuan untuk menyelamatkan Liu Bei dan menguasai Xichuan.

Pada saat setelah Liu Bei meninggal dunia, Zhuge Liang berhasil menghalau tujuh serangan yang dilancarkan Cao Pi. Dengan adanya Zhuge Liang, Kerajaan Shu menjadi lebih makmur dan memiliki tentara yang lebih perkasa. Zhuge Liang berhasil memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh Meng Huo di bagian selatan Kerajaan Shu dan memimpin enam operasi melawan Kerajaan Wei untuk memenuhi keinginan Liu Bei demi mengembalikan kejayaan Dinasti Han.

Musuh utama Zhuge Liang adalah Sima Yi. Jika bukan karena Sima Yi, Zhuge Liang tentunya sudah berhasil menguasai Luoyang dan memenuhi keinginan Liu Bei untuk mengembalikan kejayaan Dinasti Han. Zhuge Liang yang bekerja terlalu keras dan penuh tekanan membawa dirinya sakit pada operasi penyerangan ke enam. Zhuge Liang meninggal dunia di Wuzhangyuan namun sebelum meninggal dia memilih Jiang Wei sebagai penerus. Kematian Zhuge Liang membawa kerugian besar bagi Kerajaan Shu.
Read more...

Sejarah Dewa Pintu (Men Shen / 門神)

0 komentar

Ideas for Life - Dewa pintu adalah karakter dewa yang sering dan umum dikenal dalam kepercayaan tradisional populer Tionghoa. Dewa pintu, walaupun hanya merupakan dewa dengan derajat relatif lebih rendah dibandingkan dewa-dewa rumah lainnya, namun sebenarnya sejarah dewa pintu malah lebih tua daripada beberapa karakter pendewaan lainnya. Membicarakan dewa pintu harus dibabarkan dari 2 segi pembahasan yaitu sejarah faktual dan legenda.
Legenda dewa pintu
Popularitas karakter dewa pintu mulai menanjak di zaman Dinasti Tang, di mana legenda dewa pintu paling terkenal berasal dari zaman ini. Dikatakan bahwa naga Sungai Jing melanggar perintah langit karena menurunkan hujan pada waktu dan kapasitas yang salah sehingga langit menitahkan salah seorang menteri, Wei Zheng untuk menghukumnya. Karena takut dihukum, sang naga kemudian meminta perlindungan kepada Kaisar Taizong (Li Shimin) yang saat itu berkuasa. Taizong mengiyakan permintaan naga dan mengajak Wei Zheng bermain catur supaya lupa batas waktu untuk menghukum sang naga. Namun, rupanya Wei Zheng hanya perlu menebas leher sang naga dalam mimpinya sehingga siasat Taizong gagal memenuhi janjinya pada sang naga.
Sang naga yang mati penasaran kemudian datang menghantui Taizong tiap malam di istananya. Wei Zheng mengetahui perihal ini dan mengurus 2 jenderal, Qin Qiong dan Yuchi Gong untuk berjaga di luar pintu istana seperti yang pernah ditayangkan dalam film serial "Kera Sakti". Sang naga tidak datang menghantui Taizong untuk beberapa hari, namun kembali kemudian lewat pintu belakang yang tidak dijaga. Wei Zheng kemudian memutuskan untuk berjaga sendiri di pintu belakang dan sang naga tidak pernah kembali setelah itu. Taizong menyadari tak mungkin membiarkan jenderal dan menterinya berjaga terus di istananya, memutuskan untuk melukis potret kedua jenderalnya di daun pintu kiri dan kanan, serta Wei Zheng di pintu belakang. Ini kemudian yang mengawali penggunaan potret Qin Qiong dan Yuchi Gong di pintu berdaun dua (biasanya pintu depan) serta Wei Zheng untuk pintu dengan satu daun.
Sejarah faktual
Sebenarnya dewa pintu mulai ada sejak zamannya Huangdi, 5000 tahun lalu, namun ini sebuah legenda. Catatan mengenai dewa pintu yang lebih akurat adalah di zaman Dinasti Shang, di mana dewa pintu berawal dari kepercayaan tradisional di Tiongkok sebelum munculnya agama. Raja-raja Dinasti Shang menjadikan pintu sebagai satu objek dari lima objek penghormatan pada masa itu. Kepercayaan tradisional Tionghoa menganggap bahwa setiap benda mempunyai rohnya sendiri-sendiri. Dewa pintu lebih jauh merupakan bentuk penghormatan ke-4, penghormatan pada benda-benda. Pintu dipilih karena pintu merupakan bagian dari rumah tempat tinggal yang sangat penting, simbol perlindungan terhadap ancaman dari luar dan dilewati setiap hari. Manusia selalu membutuhkan keseimbangan jasmani dan spiritual, pintu yang nyata dianggap hanya melindungi dari makhluk yang nyata, untuk melindungi dari makhluk halus, maka pintu haluslah yang mengambil peranan ini. Inilah cikal bakal dewa pintu.
Mengapa dewa pintu dimanusiakan?
Pemanusiaan dewa pintu sebenarnya mulai populer pada zaman Dinasti Han. Banyak karakter dewa-dewi dalam kebudayaan Tionghoa yang dimanusiakan untuk menambah kedekatan pada manusia, misalnya bentuk penghormatan terhadap langit yang dimanusiakan sebagai Kaisar Langit (Giok Hong Tay Te), atau bumi yang dimanusiakan sebagai Dewa Bumi/Tanah (Tho Te Kong).
Siapa saja yang dikarakterkan sebagai dewa pintu dalam sejarah?
Zaman Han = Shen Shu dan Yu Lu
Zaman Tang = Qin Qiong dan Yuchi Gong, Wei Zheng, Zhong Kui
Zaman Song dan Yuan = Qin Qiong dan Yuchi Gong, Zhao Yun, Yue Fei
Semua karakter di atas adalah karakter sejarah nyata, kecuali Shen Shu dan Yu Lu yang merupakan tokoh legenda. Satu2nya persamaan di antara mereka mayoritas adalah jenderal perang yang terkenal pada masanya masing-masing kecuali Wei Zheng yang terkenal sebagai menteri vokal serta Zhong Kui yang terpelajar namun berperawakan sangat jelek sampai-sampai hantupun takut kepadanya.
Evolusi dewa pintu masa sekarang
Dewa pintu di masa sekarang berbentuk lukisan biasanya hanya ditemukan di pintu kelenteng. Rumah-rumah penduduk tidak melukis gambar dewa pintu di daun pintu rumah mereka, biasanya hanya ada tempat menancapkan hio di sebelah kiri kanan pintu. Namun, masih ada tradisi menempel lukisan dewa pintu di daun pintu pada malam Tahun Baru (tanggal 30 bulan 12 penanggalan Imlek). Zaman sekarang, dewa pintu tidak hanya ditujukan untuk melindungi rumah dari hal-hal buruk, namun juga untuk mengundang nasib baik dan keberuntungan. Selain itu, lukisan dewa pintu di kelenteng sebenarnya juga ditekankan pada nilai artistiknya, biasanya sangat mengundang perhatian dari pemerhati arsitektur tradisional Tiongkok karena kekhasannya.

Read more...

Sejarah Asal Mula Perayaan Hari Ceng Beng atau Qing Ming

0 komentar
Ideas for Life - Tradisi ini berasal dari tradisi kerajaan di zaman dulu. Ceng Beng (baca : Qing Ming = cerah dan cemerlang) dipilih karena 15 hari setelah Chunhun, biasanya dipercayai merupakan hari yang baik, cerah, terkadang diiringi hujan gerimis dan cocok untuk melaksanakan ziarah makam. Sebelum zaman Dinasti Qin, ziarah makam hanya monopoli dan hak para bangsawan. Namun setelah Qin Shi-huang mempersatukan Tiongkok dan mengabolisi para bangsawan, rakyat kecil kemudian meniru tradisi ziarah makam ini setiap Ceng Beng.



Sebuah legenda asal mula Ceng Beng menceritakan tentang kaum Cina yang memang punya tradisi yang sedikit banyak tertuju pada peringatan leluhur (sebutannya “kia hao” atau “filial piety”, alias “rasa hormat anak pada orang tua/leluhurnya”) . Makanya di rumah-rumah Cina banyak ditemukan rumah abu atau meja sembahyang leluhur. Karena itulah, nyekar juga menjadi satu kegiatan wajib.

Legenda 1
Hari *Ceng Beng* bermuasal dari zaman *Chun Qiu Zhan Guo *(Musim semi-gugur dan negara saling berperang, abad 11-3 SM), adalah salah satu hari perayaan tradisional suku Han (suku mayoritas di Tiongkok), sebagai salah satu dari 24 *Jie Qi *(sistem kalender Tiongkok), waktunya jatuh antara sebelum dan sesudah 5 April Masehi.

Sesudah hari *Ceng Beng*, di Tiongkok semakin banyak hujan, bumi dipenuhi dengan panorama kecemerlangan musim semi. Pada saat itu semua makhluk hidup "melepaskan yang lama dan memperoleh yang baru", tak peduli apakah itu tanaman di dalam bumi raya, atau tubuh manusia yang hidup berdampingan secara alamiah, semuanya pada saat itu menukar pencemaran yang diperoleh pada musim dingin/salju untuk menyambut suasana musim semi dan merealisasi perubahan dari *Yin *(unsur negatif) ke *Yang* (unsur positif).

Konon, sesudah Yu agung (Âçã», raja pada zaman Tiongkok kuno, abad ke-22 SM) menaklukkan sungai, maka orang-orang menggunakan kosa kata *Qing Ming *(di Indonesia terkenal dengan *Ceng Beng*) untuk merayakan bencana air bah yang telah berhasil dijinakkan dan kondisi negara yang aman tenteram.

Pada saat itu musim semi nan hangat bunga bermekaran, seluruh makhluk hidup bangkit, langit cerah bumi cemerlang, adalah musim yang baik untuk berkelana menginjak rerumputan (Ta Qing). Kebiasaan tersebut telah dimulai sejak dinasti Tang (618-907).

Saat *Ta Qing*, orang-orang selain dapat menikmati panorama indah musim semi, juga sering dilangsungkan beraneka kegiatan hiburan untuk menambah gairah kehidupan.

 

Legenda 2
Konon, jaman dahulu, terutama bagi orang-orang yang berduit dan berharta, nyekar itu tidak hanya diadakan sekali setahun, tapi bisa berkali-kali (dua kali sebulan bahkan). Dan acara ini dibuat penuh dengan kemewahan dan benar-benar mempertontonkan kekayaan. Kaum sanak keluarga ditandu ke sana lalu ke mari, diiringi dayang-dayang dan pengawal yang berjumlah banyak, makanan yang dibawa itu pasti yang enak-enak dan bunga yang disiapkan juga yang mahal dan harum-harum.

Suatu hari, Kaisar Tang Xuanzong melihat semuanya ini seperti pemborosan massal saja. Dia pun menitahkan agar semua membatasi diri dan hanya mengadakan acara nyekar ini sekali setahun. Dan ia menetapkan hari Ceng Beng (limabelas hari setelah Chunhun, atau hari di mana matahari tiba di katulistiwa) sebagai hari baik untuk ini. Selain karena Ceng Beng adalah hari baik (arti kata Ceng Beng, atau Qing Ming, adalah “cerah dan terang”), hari ini dipilih karena banyak petani sudah selesai panen dan punya waktu senggang untuk mengunjungi makam leluhur. Jadilah Ceng Beng bukan hanya kegiatan orang kaya, tapi kegiatan untuk semua orang.

Legenda 3
Kesederhanaan Ceng Beng juga berkaitan erat dengan cerita Kaisar Cong Er dari Dinasti Tang. Seperti kisah Cina kuno lainnya, latar belakangnya adalah kudeta. Pada masa pelarian (karena berselisih dengan selir kejam) ketika masih jadi putra mahkota Cong Er ini ditemani oleh teman (dan bawahan) yang sangat setia, Jie Zhitui namanya. Saking setianya, dia rela untuk mengorbankan dagingnya supaya si pangeran ini bisa makan dan nggak mati kelaparan. Suatu hari, tiba kabar bahwa Cong Er sudah tidak perlu lari lagi, karena ibu tirinya sudah mati. Bersiaplah Cong Er untuk kembali ke istana dan jadi kaisar. Tapi Je Zhitui menolak untuk ikut balik ke istana, dan menyepi ke sebuah gunung bersama Ibunya.

Cong Er yang sudah jadi kaisar itu tetep kukuh meminta temannya balik dan hidup bahagia di istana. tapi Jie Zhitui bukannya balik ke istana malah semakin bersembunyi ke pedalaman gunung. Cong Er yang sudah habis akal menyuruh prajuritnya untuk membakar gunung, dengan maksud supaya Jie Zhitui keluar dari persembunyian. Tetapi, yang terjadi bukannya keluar, malah Jie Zhitui dan Ibunya tewas terbakar.
Sedihlah sang kaisar. Lalu ia mencanangkan Hari Hanshi (Hari Makanan Dingin), satu hari dalam setahun (setiap tahunnya) di mana orang-orang tidak boleh memasak/memanaskan makanan dengan api. Lambat laun Hanshi pun diintegrasikan ke dalam perayaan Ceng Beng, di mana makanan yang disediakan itu dingin dan hambar.

 

Legenda 4
Cerita legenda yang lain menyebutkan tentang seorang Raja yang sudah bertahun-tahun pergi berperang (jaman perang antar kerajaan di Cina dulu), namun berakhir dengan kekalahan dan menjadi tawanan perang yang tidak terhormat di negeri lawan. Tapi raja ini tidak tinggal diam dan diam-diam mengumpulkan sekutu untuk mempersiapkan serangan balas dendam. Singkat cerita raja ini berhasil melakukan balas dendam dan negaranya pun kembali ke dalam tangannya.

Sewaktu ia kembali ke rumah, dia baru tahu kalau orang tuanya sudah lama meninggal — dibunuh oleh raja musuh. Dan parahnya lagi tidak ada yang tau di mana orang tua sang raja dimakamkan. Sang Raja akhirnya punya akal dan mencanangkan hari kunjungan makam leluhur. Pada hari yang telah ditentukan, semua orang di negaranya harus dan wajib nyekar. Logikanya, makam yang sepi dan nelangsa, pastilah makam orang tuanya. Sejak hari itulah, setiap tahun semua wajib nyekar ke makam leluhur.

Secara Awam, masih banyak yang belum jelas bahwa sebenarnya mengapa Ceng Beng itu selalu jatuh pada 5 April setiap tahunnya, dan bukannya mengikuti penanggalan kalender Imlek. Dalam tradisi Tionghoa, ada 2 penanggalan yang menggunakan penanggalan masehi. Yakni Ceng Beng dan Tang Che/Festival musim dingin.

Kelihatannya, kalender Tionghoa itu kalender bulan, tidak begitu halnya, karena ada faktor peredaran matahari di dalamnya, yaitu 24 posisi matahari. 1 posisi matahari adalah berjangka waktu 15 hari, ada 2 posisi matahari dalam 1 bulan. Posisi ini telah ada sejak zaman Huangdi (2697 SM, 4700 tahun lalu) didasarkan atas 12 cabang bumi yang diciptakan olehnya.

Penanggalan Tionghoa sendiri memperhitungkan peredaran matahari karena Tiongkok sejak dulu adalah negara agrikultur, mayoritas penduduk Tiongkok adalah petani dan petani harus menanam sesuai musim. Musim bergantung pada peredaran matahari, sehingga posisi matahari ditambahkan dalam kalender Tionghoa.

Adapun posisi penting peredaran matahari dalam kelender Tionghoa adalah :
1. Lipchun (mulai musim semi), tanggal 5 Februari
2. Chunhun (tengah musim semi), tanggal 21 Maret (matahari berada di khatulistiwa)
3. Ceng Beng (cerah dan terang), tanggal 5 April
4. Heche (tengah musim panas), tanggal 21 Juni (saat ini matahari berada pada 23.5 LU, siang terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok)
5. Chiuhun (tengah musim gugur), tanggal 23 September (matahari berada di khatulistiwa)
6 Tangche (tengah musim dingin), tanggal 22 Desember (saat ini matahari berada di 23.5 LS, malam terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok).
Dari 24 posisi matahari ini, maka Ceng Beng dan Tangche dijadikan festival penting dalam kebudayaan Tionghoa.

Kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan Ceng Beng
Pada jaman dinasti Tang, implementasi hari Ceng Beng hampir sama dengan kegiatan sekarang, misalnya seperti membakar uang-uangan, menggantung lembaran kertas pada pohon Liu, sembayang dan membersihkan kuburan.
Yang hilang pada saat ini adalah menggantung lembaran kertas, yang sebagai gantinya lembaran kertas itu ditaruh di atas kuburan.

Kebiasaan lainnya adalah bermain layang-layang, makan telur, melukis telur dan mengukir kulit telur. Permainan layang-layang dilakukan pada saat Ceng Beng karena selain cuaca yang cerah dan langit yang terang,kondisi angin sangat ideal untuk bermain layang-layang.
Konon, ada orang setelah layang-layang berkibar di langit biru, memutus talinya, mengandalkan angin mengantarnya ke tempat nan jauh, konon ini bisa menghapus penyakit dan melenyapkan bencana serta mendatangkan nasib baik bagi diri sendiri.

Kebiasaan berikutnya adalah menancapkan pohon *Willow*: konon, kebiasaan menancapkan dahan *willow*(pohon Yangliu), juga demi memperingati *Shen Nong Shi*, yang dianggap sebagai guru leluhur pertanian dan pengobatan. Di sebagian tempat, orang-orang menancapkan dahan* willow *di bawah teritisan rumah, untuk meramalkan cuaca. Sesuai pameo kuno "Kalau dahan *willow* hijau, hujan rintik-rintik; kalau dahan *willow* kering, cuaca cerah". *Willow* memiliki daya hidup sangat kuat, dahannya cukup ditancapkan langsung hidup, setiap tahun menancapkan dahan willow, dimana-mana rimbun.

Sedangkan sejarah pohon Liu dihubungkan dengan Jie Zitui, karena Jie Zitui tewas terbakar di bawah pohon liu.

Kebiasaan lain adalah bermain ayunan *Qiu Qian *(ðãðè): ini adalah adat kebiasaan hari *Ceng Beng* zaman kuno. Sejarahnya panjang, ayunan pada zaman dulu kebanyakan menggunakan dahan sebagai rangka kemudian ditambatkan selendang atau tali.
Akhir-nya berkembang menjadi 2 utas tali ditambah papan kayu sebagai pijakan kaki yang dipasang pada rangka balok kayu yang hingga kini digemari, terutama oleh anak-anak seluruh dunia.

Selain itu ada kebiasaan bermain *Cu Ju *(sepak bola kuno): *Ju* adalah semacam bola yang terbuat dari kulit, di dalam bola tersebut diisi bulu hingga padat. *Cu Ju *menggunakan kaki untuk menyepak bola (Mirip sepak bola saat ini). Ini adalah semacam permainan yang digemari oleh orang-orang pada saat *Ceng Beng *pada zaman kuno. Konon ditemukan oleh *Huang Di *(kaisar Kuning), pada awalnya bertujuan untuk melatih kebugaran para serdadu.

Ada juga kebiasaan untuk Menanam pohon: sebelum dan sesudah *Ceng Beng*, matahari musim semi menyinari, hujan rintik musim semi betebaran, menanam tunas pohon berpeluang hidup tinggi dan dapat tumbuh dengan cepat. Maka, semenjak zaman kuno, di Tiongkok terdapat kebiasaan menanam pohon di kala *Ceng Beng*. Ada orang menyebut hari *Ceng Beng* sebagai "hari raya penanaman pohon". Kebiasaan ini berlangsung hingga hari ini.

Pada dinasti Song (960-1279) dimulai kebiasaan menggantungkan gambar burung walet yang terbuat tepung dan buah pohon liu di depan pintu. Gambar ini disebut burung walet Zitui. Kebiasaan orang-orang Tionghoa yang menaruh untaian kertas panjang di kuburan dan menaruh kertas di atas batu nisan itu dimulai sejak dinasti Ming.

Menurut cerita rakyat yang beredar, kebiasaan seperti itu atas suruhan Zhu Yuanzhang, kaisar pendiri dinasti Ming,untuk mencari kuburan ayahnya. Dikarenakan tidak tahu letaknya, ia menyuruh seluruh rakyat untuk menaruh kertas di batu nisan leluhurnya. Rakyat pun mematuhi perintah tersebut, lalu ia mencari kuburan ayahnya yang batu nisannya tidak ada kertas dan ia menemukannya. (Dalam kisah ini agak berkaitan dengan Legenda 4 diatas. Namun karena ditemukan pada literatur yang berbeda, penyusun tidak berani mengambil kesimpulan sendiri. Mohon bagi yang lebih paham ceritanya memberikan masukan).

 

Seperti perayaan lainnya, Ceng Ceng juga memiliki makanan khas seperti makan telur yang kulitnya sudah dilukis, tapi untuk telur yang diukir tidak dimakan. Selain itu ada beberapa yang mungkin tidak pernah ada di Indonesia ini seperti makanan dari daun Ai yang menjadi ciri khas suku Khe, bubur dingin, ciri khas rakyat dibawah kaki gunung Mian, serta Qing tuan adalah makanan khas Qingming dari daerah Suzhou.

Pesan Moral Perayaan Ceng Beng :
Festival Ceng Beng pada akhirnya terkait dengan pilar-pilar budaya Tionghoa yaitu
penghormatan leluhur, makanan, kekerabatan, keselarasan dan harmony, setia, berbakti, dan juga kebersamaan.
Dan hal itu tidak hanya ada pada festival Ceng Beng saja tapi tercermin pada semua festival Tionghoa yang ada.

Dengan menghormati leluhur berarti kita harus menjaga sikap hidup kita agar
tidak mencoreng nama leluhur. Semoga pada perayaan festival Ceng Beng ini kita menyadari bagaimana cara kita menghormati leluhur, caranya sederhana yaitu berikanlah kontribusi positif pada lingkungan kita dan selalulah menjaga perilaku kita agar tidak memalukan para leluhur.
Read more...

4 Kebudayaan Cina yang Telah Menyatu di Indonesia

0 komentar
Ideas for Life,-

1. Wayang Potehi
 

wayang potehi merupakan salah satu jenis wayang khas tionghoa yang berasal dari cina bagian selatan. Kesenian ini dibawa oleh perantau etnis tionghoa ke berbagai wilayah nusantara pada masa lampau dan telah menjadi salah satu jenis kesenian tradisional indonesia. Cerita yang ditampilkan berasal dari legenda rakyat tiongkok, seperti sampek engthay, sih djienkoei, capsha thaypoo, sungokong, samkok dll.

2. Bacang

bakcang atau bacang adalah makanan tradisional masyarakat tionghoa. Kata ‘bakcang’ sendiri adalah berasal dari dialek hokkian yang lazim dibahasakan di antara suku tionghoa di indonesia.Nyam, makanan kesukaan nih.


Makanan ini, menurut legenda, muncul pada zaman dinasti zhou berkaitan dengan simpati rakyat kepada qu yuan yang bunuh diri dengan melompat ke sungai miluo. Pada saat itu, bakcang dilemparkan oleh rakyat sekitar ke dalam sungai tersebut untuk mengalihkan perhatian makhluk-makhluk di dalamnya agar tidak memakan jenazah qu yuan. Kemudian, bakcang menjadi salah satu simbol perayaan peh cun atau duanwu.



3. Kiasu
 

kiasu adalah ejaan hokkien (fujianese) untuk bhashu/pasu. Jargon ini sangat sering didengungkan di singapura. Istilah ini mengandung arti suatu ketakutan akan tertinggal atau takut kalah karena kurang menguasai ilmu. Kata ini begitu banyak digunakan oleh orang-orang singapura dan malaysia yang dimasukkan ke dalam perbendaharaan bahasa inggris mereka. Kata ini seringkali digunakan dalam menggambarkan sikap sosial masyarakat, khususnya masyarakat singapura.

Kiasu telah diterima sebagai kata resmi di kamus bahasa inggris oxford. Kiasu biasanya dibandingkan dengan kiasi (secara harfiah berarti, takut mati) dan keduanya biasanya digunakan untuk menggambarkan perilaku dimana kiasu atau kiasu-isme berarti mengambil cara-cara ekstrim untuk memperoleh kesuksesan dan kiasi atau kiasi-isme berarti mengambil cara-cara ekstrim untuk menghindari resiko.

4. Ai pia cia e ya (爱拼才会赢 ) 

ini adalah “lagu kebangsaan” suku hokkien di seluruh dunia. Lirik lagu dari taiwan ini mencerminkan etos kerja dan semangat berusaha yang sangat tinggi. Seperti umumnya lagu-lagu hokkien lainnya, lagu ini sangat mengandung semangat, dimana arti judulnya saja “harus berjuang baru bisa menang”.
 
Read more...

Sejarah Dewa Kwan Kong

5 komentar


Ideas for Life,-


Guan Sheng Di Jun {Hok Kian = Kwan Seng Tek Kun} atau yang lebih dikenal sebagai 關公 Guan Gong {Kwan Kong} adalah seorang Jenderal terkenal yang hidup pada zaman Tiga Negara (Sam Kok, 165 – 219 M). Beliau lahir di He Dong (sekarang Jie Zhou), propinsi Shan Xi, dan bernama asli 關羽 Guan Yu alias Guan Yin Zhang.


Kwan Kong telah mencapai kesempurnaan dengan gelar Bodhisatva Satyakalama, Guan Sheng Di Jun (Kwan Seng Tek Kun). Dalam agama Buddha, gelar Di Jun {Tek Kun} adalah setingkat dengan Bodhisatva. Bodhisatva pria biasanya bergelar Di Jun. Sedangkan Bodhisatva wanita bergelar Pho Sat. Kwan Kong juga bergelar Fu Mo Da Di (Bodhisatva Penakluk Mara), Guan Fa Li Zu (Bodhisatva Penegak Hukum). 

Ada umat yang bertanya : Dari mana kita tahu bahwa Dewa Kwan Kong telah mencapai Bodhisatva? 
Perlu kita ketahui bahwa perbedaan utama antara Bodhisatva dengan Dewa adalah: Bodhisatva bersifat internasional (世界公認的 = diakui di seluruh dunia), sedangkan Dewa bersifat lokal (kedaerahan). 

Contoh: 

Kwan Im Pho Satyang dikenal sebagai Dewi Kwan Im, adalah Bodhisatva. Beliau dihormati (& diakui) di seluruh dunia, bahkan orang Baratpun mengenalnya sebagai Goddes of Mercy. Di mana ada Wihara/Kelenteng, di situ pasti ada arca Kwan Im Pho Sat. 

San Bao Da Ren 
Sam Po Tai Jin adalah Dewa, beliau dihormati di Indonesia khususnya Jawa Tengah. Arcanya hanya terdapat di beberapa kelenteng saja.

Kwan Kong bersifat internasional, diakui di seluruh dunia. Arca Kwan Kong terdapat di Wihara/Kelenteng di berbagai belahan dunia. Bahkan Kwan Kong adalah salah satu Dewata yang dipuja oleh ketiga agama (Sam Kauw) sekaligus. 

  • Kaum Buddhist menganggapnya sebagai Dewata Pelindung Kuil dan Bangunan2 Suci (salah satu dari Ke Lan Seng Ciong Pho Sat). 
  • Kaum Taoist menghormatinya sebagai Malaikat Pelindung Peperangan. 
  • Kaum Confusianist memujanya sebagai seorang suci dan teladan dalam hal Setia, Pri Kebenaran dan Keberanian. Sepanjang Kekaisaran Tiongkok dan pada masa Dinasti QingKwan Seng Tee Kun amat dipuja bersama-sama Kwan Im Hut Co. Beliau adalah Dewata Utama Pelindung Kerajaan.


  





Gambar dan arcanya populer dengan ujud Beliau duduk membaca Kitab Hikayat zaman Chun Chiu 春秋 (salah satu dari 5 kitab klasik). Bersama 4 Dewata pendidikan lainnya Beliau dipuja sebagai 5 Dewata Pendidikan (Ngo Bun Ciang). Rakyat pada umumnya memujanya sebagai Dewata Sipil & Militer 文武雙神 (Bun Bu Seng Sin) dan salah satu dari Dewata Harta 財神 (Cay Sin). Bersama anak angkatnya Koan Phing 關平, dan pengawalnyaCiu Chong 周倉 yang setia, Beliau banyak dipuja baik di kelenteng maupun di rumah-rumah.

Dalam Kisah Tiga Negara (Sam Kok) Kwan Kong adalah seorang Jendral yang bernama Guan Yu. Lalu bagaimana Jenderal Guna Yu (Kwan Kong) bisa menjadi Bodhisatva 菩薩 ? 
Seperti kita ketahui, Bodhisatva adalah seorang pembina diri yang penuh dengan cinta kasih. Sedangkan seorang Jendral di zaman peperangan pastilah banyak membunuh orang. Ini adalah hal yang amat kontradiktif. Namun perlu kita ketahui bahwa seseorang bisa menjadi Bodhisatva bila ia memiliki suatu kepribadian luhur 特德 yang luar biasa. Kepribadian luhur Jendral Kwan Kong yang luar biasa adalah Kesetiaan & Peri Kebenaran.

 

Berikut adalah intisari & kepribadian luhur dari Sejarah Hidup Kwan Kong dalam Kisah Sam Kok (Kisah Tiga Negara). Bandingkan jika Anda membaca Buku Sam Kok karangan Lo Kuan Chung yang terdiri dari 4 buku @ 955 halaman, Download ) :
  1. Setia Kepada Negara ( 盡忠於國 )
    Pada suatu kali peperangan, Kwan Kong sendirian dikurung oleh ratusan prajurit musuh (Cao Cao). Namun beliau tidak takut mati, tetap tidak mau menyerah kepada Cao Cao. Malah mengajukan 3 Syarat: 
    1. Takluk kepada Kerajaan Han, bukan kepada Cao Cao. 
    2. Keluarga Liu Bei (istri Liu Bei) dijamin keamanannya. 
    3. Bila telah mendengar keberadaan Liu Bei, Kwan Kong diperbolehkan bergabung kembali dengan kakaknya. 

    Cao Cao dengan sangat terpaksa menerima ketiga syarat ini (Coba kita pikir: Mana ada orang yang menyerah, tapi malah mengajukan 3 syarat). Kemudian Kwan Kong tinggal di istana Cao Cao selama 12 tahun, namun Beliau tetap setia kepada Dinasti Han dengan prinsip patriotic: 降漢而不降曹 Menyerah kepada Han, bukan kepada Cao.
  2. Menjaga Norma Susila ( 守禮不亂 )
    Kwan Kong menjaga keselamatan kedua kakak ipar selama 12 tahun, ditemani lilin membaca kitab sastra Chun Chiu. Tak berani meninggalkan kakak ipar, karena takut mereka mendapat bahaya. Saat kedua kakak ipar tidur, Kwan Kong tidak tidur dan menjaga di luar kamar, mempersiapkan golok untuk menjaga keselamatan kedua kakak ipar. Sebenarnya Cao telah membangun istana yang megah untuk Kwan Kong, namun Beliau tak mau tinggal di dalamnya, karena senantiasa mengkhawatirkan kedua kakak iparnya. Lalu Cao dengan licik mengatur Kwan Kong tinggal dengan kedua kakak iparnya dalam 1 atap yang sama, ingin melihat apakah Kwan Kong bisa menjaga norma susila. Kalau melanggar berarti kegagahan Kwan Kong telah lenyap di tangan Cao, dan tak ada muka untuk kembali kepada Liu Bei. Tapi taktik Cao tidak berhasil. Selama 12 tahun Kwan Kong berhasil menjaga norma susila. Manusia adalah mahluk yang berperasaan, orang yang tinggal bersama selama 12 tahun pasti ada perasaan. Namun Kwan Kong bisa menjaga kesucian. Sungguh luar biasa! Hawa ksatria membubung tinggi ke angkasa, sepanjang sejarah manusia tiada orang kedua. (along the history there was no the second man).
  3. Tidak tergiur akan Kesenangan/Kenikmatan ( 不圖享樂 )
    Cao Cao melayani Kwan Kong dengan 3 hari 1 pesta kecil, 5 hari 1 pesta besar 三日一小宴,五日一大宴, dengan siasat lembut ingin menaklukkan hati Kwan Kong agar mau mengabdi kepadanya. Karena Cao Cao melihat Kwan Kong menjaga Liu Bei selama berperang, dengan penuh penderitaan, letih, tiap saat terancam bahaya. Namun Kwan Kong tetap setia kepada Liu Bei, hatinya tidak tergerak dengan pesta-pesta tersebut.
  4. Tidak silau akan nama dan harta ( 不慕功名 )
    Kwan Kong dilantik sebagai Sou Ting Hou壽亭候 (Panglima Laskar Tertinggi Angkatan Perang), naik kuda diberi emas, turun kuda diberi perak ( 上馬金,下馬銀 ). Cao Cao sangat pintar menjilat / mengambil hati: 

    Setiap Kwan Kong mau naik kuda diberi sekantung emas, kemudian begitu Kwan Kong turun dari kuda ada pengawal yang memberi sekantung perak. Tapi Kwan Kong tetap tidak bergeming, tidak serakah akan harta (Coba kalau kita tukar posisi; Misalnya setiap mau naik mobil diberi emas, begitu turun dari mobil diberi sekantung perak. Jika kita serakah, ingin dapat harta berlimpah dengan mudah, maka kita setiap hari pekerjaannya hanya naik & turun mobil saja!?). Cao merasa kesal, apakah emas dan perak saya palsu? 

    Karena di otak Cao Cao, di dunia ini tak ada orang yang tidak bisa ditaklukkan dengan 4 Ta : Harta (emas & perak), Tahta (kedudukan tinggi: Sou Ting Hou), Wanita cantik {Cao Cao mengirimkan puluhan wanita cantik kepada Kwan Kong, tapi beliau tidak merasa tertarik sama sekali, malah diserahkan untuk melayani kedua kakak iparnya. Ada pepatah Tiongkok yang mengatakan 英雄難過美人關, Ying Xiong Nan Guo Mei Ren Guan, yang berarti Seorang Pahlawan Sukar Melewati Gerbang Ujian Wanita Cantik. Pepatah ini sudah banyak terbukti di berbagai negara dari zaman ke zaman. Antara lain: 

    Pada zaman Sam Kok ini ada seorang pahlawan lain yang sangat luar biasa hebat, yaitu Jendral Lu Bu {Lu Po}. Pernah pada suatu pertempuran Lu Bu ini dikeroyok oleh Liu Bei, Guan Yu & Zhang Fei (3 bersaudara) sekaligus. Tapi pertempuran ini berlangsung seimbang. Jendral Lu Bu yang hebat tidak bisa dikalahkan di medan pertempuran, tapi ia takluk oleh seorang wanita cantik, yaitu Diao ChanNamun pepatah ini tak berlaku untuk Kwan Kong, yang tidak bisa ditaklukan oleh wanita cantik. 

    Ta yang keempat adalah Jamuan Pesta (三日一小宴,五日一大宴). Namun semua cara Cao Cao untuk menaklukkan Kwan Kong gagal total. Kwan Kong tak bergeming, tetap setia kepada Liu Bei !
  5. Tidak mengharap yang baru dan membuang yang lama. ( 不迎新,不去舊 )
    Cao Cao memberikan hadiah jubah merah yang dilapisi permata kepada Kwan Kong. Namun oleh Kwan Kong jubah merah (baru) tersebut dipakai di dalam, sementara jubah hijau pemberian dari Liu Bei yang sudah lama, robek, dan lusuh dipakai di luar. Melihat hal ini Cao Cao merasa amat heran, lalu bertanya kepada Kwan Kong mengapa demikian? Kwan Kong menjawab bahwa, jubah merah yang baru pemberian dari Chao Chao dipakai di dalam adalah sebagai tanda Kwan Kong menghormati Cao Cao. Sementara jubah hijau yang sudah lama & lusuh tapi dipakai di luar adalah sebagai tanda Kwan Kong senantiasa mengingat kakak angkatnya, Liu Bei.
  6. Tidak melupakan kesetiaan persaudaraan ( 不忘兄弟情義 )
    Pada saat menerima kabar dari kakaknya Liu Bei, Kwan Kong segera mohon pamit kepada Cao Cao, tapi Cao Cao sengaja tidak mau bertemu, menggantung plat di depan kamar: Tidak terima tamu ! Tapi Kwan Kong tidak terbelenggu oleh budi awam, lalu mengembalikan semua emas & perak yang diterimanya, juga stempel kebesaran Sou Ting Hou . Kemudian Kwan Kong meninggalkan istana Cao Cao untuk pergi ribuan kilometer mencari kakak angkatnya, Lauw Pie.
  7. Melupakan aku, tidak mempedulikan keselamatan sendiri ( 忘我,奮不顧身 )
    Cao Cao begitu mengetahui kaburnya Kwan Kong dari istananya, menurunkan perintah: Jika tidak bisa menahan Kwan Kong, lebih baik bunuh saja ! Kwan Kong sendirian dengan membawa & melindungi kedua kakak iparnya berhasil 過五關,斬六將 Menerobos 5 benteng dan membunuh 6 Jenderal. Sungguh Luar Biasa !!! Akhirnya Kwan Kong yang sudah amat letih berhasil bertemu kembali dengan Liu Bei dan Zhang Fei, kakak & adik angkatnya.
    Kesetiaan dan Peri Kebenaran Kwan Kong sungguh tak tertandingi, sepanjang sejarah manusia hanya ada 1 orang. Beliau berhasil mempertahankan kepribadian luhur 剛正 Gang Zheng : ksatria, adil, jujur, teguh, berintegritas, dan gagah berani, akhirnya mencapai kesempurnaan sebagai Maha Bodhisatva Kumala Raja.
    Bersama ini mengimbau umat agar waktu bersembahyang kepada Kwan Kong, tidak menggunakan daging sebagai persembahan, tapi hanya menggunakan buah-buahan atau kue-kue (vegetarian). Ingat, Beliau telah mencapai Bodhisatva dengan gelar Bodhisatva Satyakalama (Kwan Seng Tek Kun).

Read more...

Sejarah Dewi Kwan Im

0 komentar


Ideas for Life,-
 Jauh sebelum masuknya agama Buddha menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su yaitu Dewi Welas Asih Berbaju Putih. Dikemudian hari, beliau identik dengan perwujudan dari Buddha Avalokitesvara. Secara absolut, pengertian Avalokitesvara Boddhisatva dalam bahasa Sansekerta adalah :  Valokita (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna “Melihat ke bawah atau Mendengarkan ke bawah”. Bawah di sini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (lokita).
Read more...

4 Dewa Mata Angin

0 komentar
Ideas for Life,-
Legenda dari China menceritakan bahwa Dunia dilindungi oleh Para Dewa yang menjaga Gerbang Gerbang Langit. Perumpamaan Dewa Dewa tersebut diumpamakan NagaSeiryu, Burung Api Suzaku, Kura Kura Genbu, dan Macan Byakko. Dari setiap wujud Dewa tersebut terdapat banyak Makna dan Cerita bahkan sebagai pedoman dalam zodiak dan penentu nasib karena berpatokan dengan rasi bintang. Diartikel ini anda bisa mempelajari Seluk Beluk dari 4 Dewa Mata Angin China.


4 Dewa Mata Angin, penjuru mata angin

Mahkluk Penjaga dari 4 Dewa Mata Angin 

Suzaku  Penjaga Gerbang  Selatan(Red Phoenix)
(Korean : Jujak;    Chinese : Zhu Que;    Jepang : Suzaku)
Vermilion Bird yang merupakan salah satu Simbol 4 Dewa Mata Angin. Menurut Wu xing, yang Tao sistem lima kekuatan , ia mewakili api-element, arah selatan, dan musim panas. Sehingga kadang-kadang disebut Vermilion Bird of South ( Nan Fang Zhu Que) dan juga dikenal sebagai Suzaku di Jepang dan di Korea Jujak. Hal ini sering keliru untuk Fenghuang karena kesamaan dalam rupa, tapi dua makhluk yang berbeda. The Fenghuang adalah raja burung, sementara Vermilion Bird adalah makhluk mitologi roh dari 4 Dewa Mata Angin.
Burung Suzaku yang merupakan Burung yang Elegan dan Mulia, baik dalam Penampilan dan Perilaku, sangat Selektif dalam apa yang Dimakan dan tempat bertenggernya, dengan bulu-bulu dalam berbagai warna dari oranye kemerahan.Suzaku yang sering dikaitkan dengan mitos Phoenix karena asosiasi mereka dengan api.




Genbu  Penjaga Gerbang Utara(Black Turtle)
(Korean : Hyunmoo;     Chinese : Xuan wu ;     Jepang : Genbu)
The Black Tortoise adalah salah satu dari 4 Dewa Mata Angin. Kata untuk “tortoise” adalah tabu, dan seluruh badan tidak hanya kura-kura itu sendiri, tetapi kedua kura-kura dan ular. kadang disebut Black Warrior dari Utara ( Bei Fang Xuan W), dan dikenal sebagai Genbu di Jepang dan di Korea Hyeonmu. Itu melambangkan utara dan musim dingin Walaupun namanya di Cina, Xuán, sering diterjemahkan sebagai Black Tortoise dalam bahasa Inggris, biasanya digambarkan sebagai baik kura-kura dan ular, khususnya dengan ular disekitar kura-kura.
Salah satu dari 4 Dewa Mata Angin dan totem binatang Zodiak Cina. Hal ini juga salah satu dari Empat Fantastis hewan dari teori Empat Elemen. Genbu mewakili arah Utara dan berhubungan dengan air.
Disebut “kura-kura-ular”, biasanya digambarkan sebagai seekor penyu yang dililitkan oleh ular. Wujud ini bisa menjadi mitos asal mengklaim bahwa kura-kura laki-laki sering tak berdaya, menyatukan wanita dengan ular. Kepercayaan ini di balik simbolisme yang kontradiktif binatang suci sejak zaman dahulu karena kembali representasi alam semesta, kadang-kadang tidak bermoral. memiliki unsur air dalam 4 Dewa Mata Angin
Penyu hitam adalah yang terbesar dari astrologi totem binatang karena aturan seperempat utara zodiak yang merupakan bintang kutub, Sumbu dari Langit dan Rasi Bintang yang mengatur Kelahiran, Kematian dan Umur Panjang.
Seiryuu Penjaga Gerbang Timur(Blue Dragon)
(Korean : Chung Ryong;    Chinese : Qing Long;    Jepang : Seiryu)
4 Dewa Mata Angin, naga timur, shryiuu, dewa musim semiAzure Dragon merupakan salah satu dari 4 Dewa Mata Angin. kadang disebut Azure Dragon of the East , dan dikenal sebagai Seiryuu di jepang and Cheongryong di korea. Seiryuu melambangkan arah timur dan musim semi.
Seiryu adalah salah satu dari Empat Simbol dari rasi Cina. Kadang-kadang disebut Naga Azure dari Timur, dan dikenal sebagai Seiryuu di Jepang danCheongryong di Korea. Ini mewakili Timur dan Musim Semi. Menurut Wu Xing, Seiryu berelemen kayu (Wood). Jangan terkecoh dengan mitologinaga kuning yang berhubungan dengan Kaisar Cina.
Di Jepang, Azure Dragon (Seiryuu) adalah salah satu dari 4 Dewa Mata Angin dan dikatakan untuk melindungi kota Kyoto di timur. Barat dilindungi oleh Macan Putih, di sebelah utara dilindungi oleh Black Tortoise, selatan dilindungi oleh Vermilion Bird, dan pusat dilindungi oleh Yellow Dragon. Di Kyoto terdapat kuil untuk masing-masing roh penjaga. The Azure Dragon ini diwakili dalam Kuil Kiyomizu di timur Kyoto. Sebelum pintu masuk candi terdapat patung naga yang katanya minum dari air terjun di dalam kompleks candi di malam hari. Oleh karena itu setiap tahun diadakan upacara untuk menyembah naga dari timur. Di Jepang, naga biru adalah salah satu dari empat roh wali kota dan negara bagian yang melindungi kota Kyoto di timur. Barat dilindungi oleh Byakko, Genbu utara dan selatan oleh Suzaku. Di Kyoto terdapat kuil untuk masing-masing roh penjaga. Kiyomizu Temple adalah naga biru.
Byakko  Penjaga Gerbang Barat (White Tiger )
(Korean : Baekho;    Chinese : Xi Fang Bai Hu;    Jepang : Byakko)
The White Tiger merupakan salah satu dari 4 Dewa Mata Angin. kadang di sebut White Tiger of the West , dan di kenal sebagai Byakko di jepang and Baekho di korea. byakko melambangkan arah barat dan Musing Gugur. Macan Putih adalah salah satu dari Empat Simbol dari rasi Cina. Hal ini kadang-kadang disebut Macan Putih Barat, dan dikenal sebagai Byakko di Jepang dan Baekho di Korea. Ini mewakili barat dan musim gugur, dan unsur besi.
Selama Dinasti Han, orang-orang percaya bahwaharimau menjadi raja dari semua binatang. Legenda menceritakan bahwa ketika seekorharimau mencapai 500 tahun, ekornya akan menjadi putih. Dengan cara ini, harimau putihmenjadi 4 Dewa Mata Angin. Konon harimau putih hanya akan muncul ketika kaisar memerintah dengan kebajikan mutlak, atau jika ada perdamaian di seluruh dunia. Karena warna putih dari cina juga mewakili lima unsur barat, harimau putih dengan demikian menjadi wali mitologi barat pada 4 Dewa Mata Angin
Dalam Kitab Tang, yang reinkarnasi dari Byakko adalah Li Luo Cheng dan reinkarnasi Seiryuadalah dikatakan sebagai pemberontak dinamakan Xiongxin. Mereka berdua adalah saudara bersumpah pada Qin Shubao, Cheng Zhijie dan Yuchi Jingde. Jiwa mereka setelah kematian dikatakan memiliki tubuh pahlawan baru Dinasti Tang dan Dinasti Liao, Xue Rengui dan Dia Suwen.
Dalam beberapa legenda dari Dinasti Tang dan legenda 4 Dewa Mata Angin , Rengui Xue ia dikatakan sebagai reinkarnasi dari Byakko, dan musuh bebuyutan, Dinasti Liao pangeranSuwen Dia adalah reinkarnasi dari Seiryu.
Read more...
 
Ideas For Life © 2012 DheTemplate.com & Supported by Blogger

You can add link or short description here